Sementara itu, salah satu peserta diskusi, Efraim Anilan, mengaku tersentuh dengan pesan kemanusiaan yang disampaikan dalam film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Menurutnya, film tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan alam pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.
“Kita belajar dari film ini bahwa ketika ada permasalahan atau kerusakan alam, maka kita sedang merusak diri sendiri karena kita hidup dari alam itu sendiri. Kita bertanggung jawab terhadap diri kita dan orang lain,” ujar Efraim.
Ia mengatakan bagian paling membekas baginya adalah tangisan masyarakat Papua yang dianggap sebagai simbol jeritan mencari keadilan dari negara.
“Pesan yang sangat membekas adalah saya melihat dari sisi kemanusiaan. Tangisan masyarakat Papua itu bagi saya adalah bagaimana mereka meminta keadilan dari pemerintah itu sendiri,” jelasnya.
Efraim juga menilai film tersebut relevan dengan berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di sekitar masyarakat, seperti penebangan pohon, pembakaran lahan, hingga krisis air dan pangan.
“Harapan saya, pemerintah lebih giat lagi melihat permasalahan yang terjadi. Jangan menduakan masyarakat lokal. Pemerintah sebagai wadah tertinggi harus bertanggung jawab melihat masyarakat yang dianggap rendah tanpa menduakan mereka karena mereka adalah bagian integral dari masyarakat Indonesia,” tutup Efraim.
Kontributor: Yanto











