Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

badge-check


					Founder Komunitas Penjaga Budaya Hellong-Uibaha (KPBH), Rally M. Bistolen, S.H., M.H. Foto: Dok. pribadi/ Perbesar

Founder Komunitas Penjaga Budaya Hellong-Uibaha (KPBH), Rally M. Bistolen, S.H., M.H. Foto: Dok. pribadi/

Sementara itu, salah satu peserta diskusi, Efraim Anilan, mengaku tersentuh dengan pesan kemanusiaan yang disampaikan dalam film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Menurutnya, film tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan alam pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.

“Kita belajar dari film ini bahwa ketika ada permasalahan atau kerusakan alam, maka kita sedang merusak diri sendiri karena kita hidup dari alam itu sendiri. Kita bertanggung jawab terhadap diri kita dan orang lain,” ujar Efraim.

Ia mengatakan bagian paling membekas baginya adalah tangisan masyarakat Papua yang dianggap sebagai simbol jeritan mencari keadilan dari negara.

“Pesan yang sangat membekas adalah saya melihat dari sisi kemanusiaan. Tangisan masyarakat Papua itu bagi saya adalah bagaimana mereka meminta keadilan dari pemerintah itu sendiri,” jelasnya.

Efraim juga menilai film tersebut relevan dengan berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di sekitar masyarakat, seperti penebangan pohon, pembakaran lahan, hingga krisis air dan pangan.

“Harapan saya, pemerintah lebih giat lagi melihat permasalahan yang terjadi. Jangan menduakan masyarakat lokal. Pemerintah sebagai wadah tertinggi harus bertanggung jawab melihat masyarakat yang dianggap rendah tanpa menduakan mereka karena mereka adalah bagian integral dari masyarakat Indonesia,” tutup Efraim.

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi