Rally juga menyoroti dampak lingkungan yang ditampilkan dalam film, mulai dari kerusakan ekosistem hingga hilangnya ruang hidup masyarakat adat di Papua. Kondisi tersebut, kata dia, perlahan mengancam keberlangsungan budaya dan peradaban suku-suku asli Papua.
“Kenapa saya bilang hampir punah? Karena kita melihat dari operasi militer dari tahun ke tahun, sejak Operasi Trikora sampai hari ini, masyarakat adat menjadi korban dari pembantaian suatu rezim. Pesan Pesta Babi menyampaikan bahwa Papua saat ini tidak lagi baik-baik saja. Proses negara yang tidak melihat masyarakat sebagai warga negaranya, demi kepentingan segelintir orang, telah mengorbankan sebagian masyarakat Papua untuk mencapai keinginan mereka,” katanya.
Ia menambahkan hingga saat ini belum ada langkah nyata negara dalam menjamin keberlangsungan masyarakat adat. Menurut Rally, perlindungan terhadap masyarakat adat dalam UUD 1945 masih sangat terbatas.
“Kolonialisme modern yang paling nyata hari ini yaitu pemusnahan masyarakat adat, baik genosida terhadap budaya maupun genosida terhadap rakyatnya sendiri,” kritiknya.
Meski demikian, Rally menilai generasi muda mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan dan hak-hak masyarakat adat sebagaimana pesan yang disampaikan dalam film tersebut.
“Kaum muda menjadi lebih kritis dalam melihat isu-isu lingkungan maupun isu terhadap masyarakat adat, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam film ini,” pungkasnya.











