Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

badge-check


					Founder Komunitas Penjaga Budaya Hellong-Uibaha (KPBH), Rally M. Bistolen, S.H., M.H. Foto: Dok. pribadi/ Perbesar

Founder Komunitas Penjaga Budaya Hellong-Uibaha (KPBH), Rally M. Bistolen, S.H., M.H. Foto: Dok. pribadi/

Rally juga menyoroti dampak lingkungan yang ditampilkan dalam film, mulai dari kerusakan ekosistem hingga hilangnya ruang hidup masyarakat adat di Papua. Kondisi tersebut, kata dia, perlahan mengancam keberlangsungan budaya dan peradaban suku-suku asli Papua.

“Kenapa saya bilang hampir punah? Karena kita melihat dari operasi militer dari tahun ke tahun, sejak Operasi Trikora sampai hari ini, masyarakat adat menjadi korban dari pembantaian suatu rezim. Pesan Pesta Babi menyampaikan bahwa Papua saat ini tidak lagi baik-baik saja. Proses negara yang tidak melihat masyarakat sebagai warga negaranya, demi kepentingan segelintir orang, telah mengorbankan sebagian masyarakat Papua untuk mencapai keinginan mereka,” katanya.

Ia menambahkan hingga saat ini belum ada langkah nyata negara dalam menjamin keberlangsungan masyarakat adat. Menurut Rally, perlindungan terhadap masyarakat adat dalam UUD 1945 masih sangat terbatas.

“Kolonialisme modern yang paling nyata hari ini yaitu pemusnahan masyarakat adat, baik genosida terhadap budaya maupun genosida terhadap rakyatnya sendiri,” kritiknya.

Meski demikian, Rally menilai generasi muda mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan dan hak-hak masyarakat adat sebagaimana pesan yang disampaikan dalam film tersebut.

“Kaum muda menjadi lebih kritis dalam melihat isu-isu lingkungan maupun isu terhadap masyarakat adat, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam film ini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi