Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

badge-check


					Suasana Nobar KPBH. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Suasana Nobar KPBH. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Komunitas Penjaga Budaya Hellong-Uibaha (KPBH) Kolhua menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.Jumat (22/05/2026) Malam. Acara yang berlangsung di Sekretariat KPBH, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, ini merupakan inisiasi kolaborasi antara KPBH dan Komunitas Oase Cendekia.

‎Kegiatan nobar dan diskusi ini bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kondisi lingkungan yang kian memperparah akibat adanya Proyek Strategis Nasional (PSN), yang dinilai sering mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Acara juga menjadi ruang refleksi kritis terhadap isu lingkungan dan posisi masyarakat adat yang semakin terpinggirkan.

‎Acara nobar dan diskusi ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Rally M. Bistolen, S.H., M.H. (Founder KPBH) dan Petrus A. Gilaa, S.Fil., M.A. Diskusi dipandu oleh moderator, Rio Rocky Hermanus, S.Fil., M.Th.

‎Suasana kegiatan berjalan dengan penuh khidmat, interaktif, dan antusias. Peserta yang terlibat tidak hanya terbatas pada kalangan pemuda, tetapi juga melibatkan anak-anak dan ibu-ibu, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap isu-isu kerakyatan dan pelestarian budaya.

‎Rally M. Bistolen, S.H., M.H., Founder KPBH, membuka diskusi dengan menyatakan bahwa film tersebut menceritakan realitas Papua secara jujur, namun resonansinya sangat kuat dengan kondisi masyarakat adat di Kolhua. Ia menjelaskan bahwa perjuangan warga Kolhua menghadapi Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Kolhua yang direncanakan sejak 1993 memiliki kemiripan nasib dengan masyarakat Papua yang tergusur.

‎“Jujur saja, film ini menggambarkan apa yang terjadi di Papua, tetapi perjalanan kami di sini tidak terlepas dari apa yang dialami masyarakat adat di Kolhua. Banyak ‘Bapak Mama’ di sini yang mungkin baru pertama kali mendengar atau datang ke lokasi proyek, padahal letaknya tepat di belakang pemukiman mereka. Ironisnya, banyak orang terkasih dari Kolhua telah meninggal karena berjuang mempertahankan tanah leluhur,” ujar Rally.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Desak Polisi Bongkar Tuntas Kematian Fika Serwutun: Jangan Ada Rekayasa Kasus

15 Mei 2026 - 11:07 WIB

Harga Bahan Pokok di Kupang Naik, Pemkot Pastikan Stok Tetap Aman

14 Mei 2026 - 16:11 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi