Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Ekonomi & Ekologi

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

badge-check


					Suasana Nobar KPBH. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Suasana Nobar KPBH. Foto: Dok. Yanto/

‎
‎‎Efraim Anilan, peserta nobar, menyampaikan pandangan dari sisi hukum dan kearifan lokal. Ia menegaskan bahwa Undang-Undang mengakui keberadaan masyarakat adat, sehingga pemerintah tidak boleh semena-mena mengambil tanah tanpa persetujuan.
‎
‎“Proyek besar-besaran sering kali dijalankan tanpa hubungan timbal balik atau musyawarah dengan masyarakat. Bagi pemerintah, Papua adalah bagian NKRI sehingga merasa punya wewenang penuh. Namun, bagi masyarakat adat, tanah adalah ibu yang memberi kehidupan. Bumi harus dijaga karena ia memberi respons positif jika kita melestarikannya,” ujar Efraim.
‎
‎Ia juga menyoroti pentingnya kearifan lokal yang sudah ada jauh sebelum terbentuknya struktur pemerintahan desa hingga pusat, atau bahkan sebelum kehadiran gereja.
‎
‎“Masyarakat lokal sudah memiliki peraturan sendiri untuk mengatur kehidupan sosial dan lingkungan. Kita harus melestarikan kearifan lokal ini sebagai identitas. Tunjukkan kepada dunia bahwa saya adalah orang Hellong, saya suku Alor, Rote, Sabu, dan lain-lain. Identitas daerah adalah kekuatan kita,” tutup Efraim.
‎
‎Melalui diskusi ini, para peserta sepakat bahwa perlindungan terhadap masyarakat adat, hutan, dan budaya memerlukan kesadaran kolektif yang melampaui sekadar regulasi formal, melainkan juga perubahan pola pikir dalam relasi kuasa antara negara, modal, dan rakyat.**

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Wawali Kota Kupang Luncurkan Program PKM Berdampak 2026

30 Juli 2026 - 16:07 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa