Selain faktor lokasi, Jemrit juga menyoroti minimnya variasi produk di dalam pasar. Saat ini, sebagian besar lapak hanya diisi pedagang sayur-mayur, sementara kios sembako dan bahan kering masih sangat terbatas.
Menurutnya, keberadaan sembako menjadi salah satu daya tarik utama agar masyarakat mau datang ke pasar.
“Kita sudah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk menambah bangunan kios khusus jual sembako dan bahan kering. Produk yang lengkap akan mendorong pembeli untuk masuk ke dalam pasar,” katanya.
Perumda juga telah menyiapkan rencana pengembangan untuk masing-masing pasar sesuai potensi wilayahnya.
Pasar Bimoku direncanakan menjadi pasar transit bagi distribusi sayur dan hasil dagangan dari kabupaten lain sebelum disalurkan ke wilayah lain.
Sementara Pasar Alak yang berada di kawasan industri juga diarahkan mendukung fungsi distribusi dan transit barang.
Sedangkan Pasar Kuanino dipertimbangkan untuk dikembangkan menjadi pasar organik atau pusat penjualan buah-buahan, sambil menunggu hasil kajian dari akademisi.
“Daya beli di wilayah Alak dan Bimoku sebenarnya ada, tetapi ketersediaan barang pokok di dalam pasar masih sedikit. Dengan adanya pilihan belanja yang lebih dekat di perumahan, transaksi di pasar menurun. Oleh karena itu, kita perlu strategi khusus,” papar Jemrit.











