Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Nasional

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

badge-check


					Foto Bersama Usai Aksi. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Aksi. Foto: Dok. Yanto/

‎Koordinator Umum(Kordum )Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti-Imperialis (PERISAI- NTT), Andy Sanjaya, memimpin orasi dengan lantang menyerukan solidaritas perjuangan.Hidup Mahasiswa,Hidup Rakyat Indonesia, Hidup Perempuan yang Melawan.teriaknya di hadapan massa aksi, sebelum menyampaikan aspirasi terkait berbagai persoalan mendesak yang dihadapi masyarakat NTT.

‎Andy Sanjaya, menegaskan bahwa pemerintah saat ini seolah tidak melihat keresahan rakyat yang sesungguhnya. Ia menyoroti kondisi ekonomi yang kian mencekik leher masyarakat kecil. “Nilai rupiah anjlok, harga BBM naik, namun respons pemerintah terhadap penderitaan rakyat sangat minim,”Ujarnya

‎Selain isu ekonomi, Ia mengangkat kasus dugaan pelanggaran HAM khususnya tuduhan terhadap Kaka Gama Feroh yang diduga Admin lika-liku NTT.Ia mengkritik keras tindakan aparat kepolisian yang dinilai menggunakan kewenangannya secara sewenang-wenang untuk melakukan intimidasi dan kriminalisasi.

‎”Dia dikriminalisasi, bahkan ditodong senjata. Ini adalah pelanggaran HAM yang nyata. Ketika polisi menggunakan kewenangannya untuk melakukan intimidasi dan melanggar prosedur hukum, maka fungsi penegakan hukum telah cacat,”  tegas Andy Sanjaya.

‎Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Mahasiswa Malaka (IMMALA), Hironimus Klau, dalam orasinya menyoroti tajam program populis pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini. Ia menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan lagi sekadar upaya mencegah angka stunting, melainkan sebuah proyek besar untuk memenangkan kursi politik pada Pemilu 2029 mendatang.

‎”Apakah program ini benar-benar bermanfaat? Apakah akan efektif mencegah stunting? Saya kira itu hanya angka di atas kertas,” kritik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan

21 Agustus 2026 - 00:01 WIB

Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita

15 Agustus 2026 - 05:24 WIB

Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir

15 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

14 Agustus 2026 - 16:41 WIB

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Trending di Suara Mahasiswa