Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Nasional

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

badge-check


					Foto Bersama Usai Aksi. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Aksi. Foto: Dok. Yanto/

‎Hironimus Klau,mempertanyakan logika pelibatan aparat keamanan dalam urusan sosial. “Yang terjadi hari ini, TNI-Polri malah mengurus dapur, bahkan DPR yang memiliki anggaran SPPG paling banyak. Ini menunjukkan arah kebijakan yang keliru,” ujarnya.

‎Melalui Aliansi PERISAI-NTT, Hironimus meminta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Timur untuk membuka hati dan mata terhadap persoalan nyata yang terjadi di lapangan, serta mengambil sikap tegas terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

‎Selain isu nasional, Hironimus juga mendesak pihak kepolisian terkait kasus dugaan korupsi dana Seroja di Kabupaten Malaka yang telah mangkrak sejak tahun 2021. Ia menjelaskan bahwa Polres Malaka sebenarnya telah melimpahkan berkas perkara tersebut ke Polda NTT, namun hingga kini tidak ada proses penanganan lebih lanjut dari tingkat provinsi.

‎”Maka melalui Aliansi PERISAI-NTT, kami meminta agar proses hukum kasus korupsi dana Seroja ini segera dipercepat. Jangan biarkan kasus ini terus terbengkalai dan mengorbankan hak-hak masyarakat Malaka,”  menutup orasinya.

‎Sementara itu, Ketua Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) NTT, Sahrul Sukwan, menegaskan bahwa aksi turun ke jalan hari ini merupakan respons langsung terhadap berbagai krisis yang menimpa rakyat Indonesia. Ia menyatakan bahwa generasi muda bangsa kini harus menghadapi warisan krisis ekonomi-politik yang berakar dari krisis overproduksi sejak 2008, yang kemudian meluas menjadi krisis keuangan global dan menyeret umat manusia ke dalam jurang penderitaan mendalam.

‎Sahrul Sukwan, menjelaskan bahwa situasi tersebut berdampak fatal bagi negara-negara seperti Indonesia, yang tidak hanya dilanda krisis overproduksi, tetapi juga krisis energi akibat perang proksi Israel Vz Iran yang dijalankan oleh Amerika Serikat. Konflik ini menyebabkan Selat Hormuz tersumbat, menahan sekitar 12 juta barel minyak bumi per hari atau setara dengan 11,5% permintaan global. Akibatnya, Indonesia yang tidak memiliki industri nasional kuat dan modal untuk bersaing di tingkat internasional terpaksa mengikuti kebijakan imperialisme karena luasnya monopoli tanah di pedesaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan

21 Agustus 2026 - 00:01 WIB

Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita

15 Agustus 2026 - 05:24 WIB

Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir

15 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

14 Agustus 2026 - 16:41 WIB

LMID Eksekutif Kota Kupang: Kongres XII Harus Jadi Momentum Kebangkitan Gerakan Kaum Muda

8 Agustus 2026 - 04:30 WIB

Trending di Suara Mahasiswa