Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo, menyampaikan apresiasi tinggi kepada massa aksi Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti-Imperialis (PERISAI) NTT. Ia menegaskan bahwa dirinya menerima dan menghargai aspirasi yang disampaikan, serta memahami betul kegelisahan yang disuarakan mahasiswa sebagai bagian dari tradisi gerakan yang pernah ia alami sendiri di masa lalu.
”Hidup Mahasiswa! Adik-adik mahasiswa, saya menyatakan bahwa suara kalian bukan suara yang harus ditakuti, tetapi suara yang harus didengar. Kritik yang lahir dari kepedulian terhadap nasib rakyat adalah bagian penting dari demokrasi,” ujar Winston. Ia mengakui bahwa kenaikan biaya hidup, harga BBM, dan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat adalah persoalan nyata yang juga ia dengar setiap hari, baik dari media, media sosial, maupun perjumpaan langsung dengan warga.
Meskipun DPRD NTT tidak memiliki kewenangan menentukan harga BBM maupun nilai tukar rupiah, Winston menegaskan bahwa lembaga legislatif daerah memiliki kewajiban moral untuk meneruskan suara kritis mahasiswa kepada pemerintah pusat yang berwenang. Ia memastikan bahwa dampak kebijakan nasional terhadap masyarakat NTT tidak boleh diabaikan sama sekali.
”Terima kasih buat PERISAI-NTT dan elemen-elemen yang masih setia dengan tradisi gerakan mahasiswa. Melalui mekanisme internal DPRD NTT, aspirasi dan tuntutan yang disampaikan akan kami pelajari, tindaklanjuti, dan teruskan melalui jalur kelembagaan yang tersedia,” janjinya. Winston menutup sambutannya dengan pesan agar mahasiswa terus menjadi kritis, menjaga gerakan tetap damai, dan berpihak pada kepentingan rakyat, karena demokrasi membutuhkan keberanian mahasiswa untuk bersuara.(*)
Kontributor: Yanto












