KupangTimurInsight, Kupang – Kenaikan harga bahan pokok di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini dipengaruhi berbagai faktor; baik dari mekanisme pasar maupun dampak situasi global. Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat ekonomi regional NTT, Dr. James D. Adam, SE.MBA dalam percakapan melalui telepon WhatsApp pada Rabu (22/04/2026).
Menurut James, secara teori ekonomi, kenaikan harga tidak terlepas dari mekanisme dasar antara suplai dan permintaan. Ia menjelaskan bahwa ketika suplai barang berkurang sementara permintaan meningkat, maka harga akan ikut naik.
“Kalau suplai kurang dan demand tinggi, maka harga pasti naik. Itu teori dasar ekonomi,” ujarnya.
Namun, dalam konteks saat ini, ia menilai kenaikan harga bahan pokok tidak hanya dipengaruhi faktor lokal, tetapi juga imbas dinamika global, termasuk persoalan politik internasional. Salah satu yang disoroti adalah konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia.
“Kalau Selat Hormuz terganggu atau ditutup, maka suplai minyak dunia ikut terganggu. Dampaknya sampai ke kita di NTT, harga BBM seperti Pertalite dan Pertamax bisa naik,” jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak langsung pada biaya distribusi barang. Ketika ongkos transportasi meningkat, harga barang di pasar pun akan ikut menyesuaikan.










