James menyebutkan bahwa dampak tersebut mungkin belum sepenuhnya terasa saat ini pada beberapa komoditas seperti beras, gula, dan minyak goreng. Namun, dalam waktu dekat, kenaikan harga diperkirakan akan terjadi.
“Sekarang mungkin belum, tapi satu dua waktu ke depan pasti berubah. Karena kalau BBM mahal, ongkos transportasi naik, pasti harga barang juga ikut naik. Mekanismenya begitu,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyoroti tingginya ketergantungan NTT terhadap pasokan dari luar daerah, khususnya dari Pulau Jawa. Sekitar 85 persen kebutuhan pokok masyarakat masih didatangkan dari luar daerah. Ia menjelaskan, jika distribusi dari Jawa terganggu, maka dampaknya langsung dirasakan di NTT; baik dari sisi ketersediaan maupun harga barang. Dalam kondisi barang langka, masyarakat tetap akan membeli meskipun harga tinggi karena kebutuhan dasar harus dipenuhi.
Selain itu, James juga menyoroti kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap kenaikan harga, yakni kelas ekonomi bawah. Ia membagi masyarakat dalam tiga kelompok; bawah, menengah, dan atas.
“Yang paling terdampak itu kelompok ekonomi kecil, orang-orang akar rumput. Kalau harga naik, mereka yang paling susah. Sementara kelompok atas relatif tidak terlalu terganggu,” ungkapnya.










