Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Headline

IMPS Kupang Gelar Nobar dan Diskusi “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”

badge-check


					Foto Bersama Usai Diskusi. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Sementara itu, peserta penyangga diskusi, mahasiswa hukum Undana, Oktavianus Randi, menyampaikan bahwa selama 60 tahun operasi militer dan eksploitasi tanah Papua terus berlangsung. Ia menyebut sekitar 2,5 juta hektar hutan telah dibuka, dan militer terlibat dalam proyek pangan dan energi.

Ia mengutip Pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa negara memiliki wewenang mengelola sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat, namun dalam praktiknya tidak berjalan demikian. “Yang kaya makin kaya, sementara masyarakat Papua semakin terpinggirkan,” ujarnya.

Ia juga menilai masyarakat Papua dipaksa menerima proyek pembangunan tanpa persetujuan yang adil. Bahkan, menurutnya, TNI dilibatkan sebagai pelaksana, yang menunjukkan bahwa masyarakat Papua diposisikan sebagai ancaman.

Ia menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong, tetapi sering diperlakukan seolah-olah tidak memiliki penghuni. Masyarakat dipaksa menerima proyek atas dasar hukum.

Menurutnya, masyarakat Papua hidup dari alam, sehingga ketika alam rusak, kehidupan mereka juga ikut hancur. Ia juga menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakter ekologis yang berbeda, sehingga tidak bisa diseragamkan, termasuk dalam hal pangan.

“Padi bukan untuk semua daerah. Papua punya sagu, NTT punya kondisi yang berbeda,” ujarnya.

Ia juga menyinggung konsep biosentrisme, bahwa manusia bukan pusat segalanya. “Ketika alam rusak, manusia juga akan terdampak,” katanya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa mahasiswa harus berperan sebagai agent of change, membuka ruang perubahan, dan tidak hanya berbicara tanpa tindakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Wawali Kota Kupang Luncurkan Program PKM Berdampak 2026

30 Juli 2026 - 16:07 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa