Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Headline

IMPS Kupang Gelar Nobar dan Diskusi “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”

badge-check


					Foto Bersama Usai Diskusi. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Sementara itu, peserta penyangga diskusi, mahasiswa hukum Undana, Oktavianus Randi, menyampaikan bahwa selama 60 tahun operasi militer dan eksploitasi tanah Papua terus berlangsung. Ia menyebut sekitar 2,5 juta hektar hutan telah dibuka, dan militer terlibat dalam proyek pangan dan energi.

Ia mengutip Pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa negara memiliki wewenang mengelola sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat, namun dalam praktiknya tidak berjalan demikian. “Yang kaya makin kaya, sementara masyarakat Papua semakin terpinggirkan,” ujarnya.

Ia juga menilai masyarakat Papua dipaksa menerima proyek pembangunan tanpa persetujuan yang adil. Bahkan, menurutnya, TNI dilibatkan sebagai pelaksana, yang menunjukkan bahwa masyarakat Papua diposisikan sebagai ancaman.

Ia menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong, tetapi sering diperlakukan seolah-olah tidak memiliki penghuni. Masyarakat dipaksa menerima proyek atas dasar hukum.

Menurutnya, masyarakat Papua hidup dari alam, sehingga ketika alam rusak, kehidupan mereka juga ikut hancur. Ia juga menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakter ekologis yang berbeda, sehingga tidak bisa diseragamkan, termasuk dalam hal pangan.

“Padi bukan untuk semua daerah. Papua punya sagu, NTT punya kondisi yang berbeda,” ujarnya.

Ia juga menyinggung konsep biosentrisme, bahwa manusia bukan pusat segalanya. “Ketika alam rusak, manusia juga akan terdampak,” katanya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa mahasiswa harus berperan sebagai agent of change, membuka ruang perubahan, dan tidak hanya berbicara tanpa tindakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Wawali Kota Kupang Luncurkan Program PKM Berdampak 2026

30 Juli 2026 - 16:07 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa