Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Headline

IMPS Kupang Gelar Nobar dan Diskusi “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”

badge-check


					Foto Bersama Usai Diskusi. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Sementara itu, peserta penyangga diskusi, mahasiswa hukum Undana, Oktavianus Randi, menyampaikan bahwa selama 60 tahun operasi militer dan eksploitasi tanah Papua terus berlangsung. Ia menyebut sekitar 2,5 juta hektar hutan telah dibuka, dan militer terlibat dalam proyek pangan dan energi.

Ia mengutip Pasal 33 ayat (3) yang menyatakan bahwa negara memiliki wewenang mengelola sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat, namun dalam praktiknya tidak berjalan demikian. “Yang kaya makin kaya, sementara masyarakat Papua semakin terpinggirkan,” ujarnya.

Ia juga menilai masyarakat Papua dipaksa menerima proyek pembangunan tanpa persetujuan yang adil. Bahkan, menurutnya, TNI dilibatkan sebagai pelaksana, yang menunjukkan bahwa masyarakat Papua diposisikan sebagai ancaman.

Ia menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong, tetapi sering diperlakukan seolah-olah tidak memiliki penghuni. Masyarakat dipaksa menerima proyek atas dasar hukum.

Menurutnya, masyarakat Papua hidup dari alam, sehingga ketika alam rusak, kehidupan mereka juga ikut hancur. Ia juga menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakter ekologis yang berbeda, sehingga tidak bisa diseragamkan, termasuk dalam hal pangan.

“Padi bukan untuk semua daerah. Papua punya sagu, NTT punya kondisi yang berbeda,” ujarnya.

Ia juga menyinggung konsep biosentrisme, bahwa manusia bukan pusat segalanya. “Ketika alam rusak, manusia juga akan terdampak,” katanya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa mahasiswa harus berperan sebagai agent of change, membuka ruang perubahan, dan tidak hanya berbicara tanpa tindakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Desak Polisi Bongkar Tuntas Kematian Fika Serwutun: Jangan Ada Rekayasa Kasus

15 Mei 2026 - 11:07 WIB

Trending di Politik & Hukum