Peserta lainnya, Thomas, juga menyampaikan bahwa masyarakat adat sangat bergantung pada alam dan habitatnya. Ia menilai bahwa setiap pembangunan yang mengatasnamakan masyarakat adat perlu dipertanyakan apakah benar-benar untuk mereka.
Ia menegaskan bahwa masyarakat adat mampu menjaga alam dengan baik meskipun tidak memiliki pendidikan formal tinggi, serta menekankan pentingnya refleksi peran mahasiswa saat ini.
Ia juga kembali menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakter alam yang berbeda, sehingga pangan tidak bisa diseragamkan. Ia menambahkan pentingnya memahami konsep biosentrisme.
Menurutnya, perubahan harus dilakukan secara kolektif melalui kolaborasi berbagai organisasi, tidak bisa hanya satu gerakan saja. Ia juga mengkritik bahwa negara sering melegalkan kepentingan penguasa, sementara masyarakat adat ditekan.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa mahasiswa harus terus membuka ruang dialog dan tidak melupakan esensinya.
Diskusi ditutup dengan teriakan bersama seluruh peserta, “Papua bukan tanah kosong,” sebagai penegasan bahwa tanah Papua memiliki sejarah, identitas, serta hak-hak masyarakat adat yang tidak dapat diabaikan.****
Kontributor: Yanto











