Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Koperasi Merah Putih di NTT: Solusi Nyata atau Sekadar Program dari Atas?

badge-check


					Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/

Namun, ia melihat adanya kecenderungan pendekatan kapitalisme negara.

“Negara menggunakan segala instrumen yang ada untuk memaksakan dari atas,” katanya.

Ia kemudian menyoroti tiga hal utama, yakni pendekatan *top-down* yang dinilai problematis; kondisi geografis NTT sebagai wilayah kepulauan yang tidak bisa diseragamkan; serta potensi ketimpangan dalam pembiayaan.

“NTT banyak kepulauan dan kebudayaan, jadi tidak boleh seragam. Ciri-cirinya tidak bisa dibuat dengan kacamata dogmatis,” tegasnya.

Emanuel juga mengkritisi ketimpangan anggaran, dengan membandingkan potensi dana hingga 3 miliar rupiah dengan dana desa yang hanya sekitar 350 juta rupiah.

Dalam penjelasannya, ia mengulas sejarah lahirnya koperasi pada 14 Agustus 1844 di sebuah kota kecil di Inggris. Saat itu, kapitalisme yang berkembang melalui Revolusi Industri menimbulkan ketimpangan kelas sosial yang tinggi. Para buruh kemudian menggalang kekuatan dengan mengumpulkan satu pound sterling hingga terkumpul 29 pound sterling untuk membangun unit usaha bersama demi kesejahteraan anggota.

Ia menjelaskan bahwa gerakan koperasi tersebut merupakan inisiatif dari bawah yang lahir dari pengalaman ekonomi masyarakat, kemudian berkembang dan menyebar ke Eropa, Atlantik, hingga Hindia Belanda. Tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Mohammad Hatta kemudian mengadopsi gagasan tersebut dalam merumuskan konstitusi ekonomi Indonesia yang berlandaskan asas kekeluargaan.

“Yang harusnya muncul dari bawah,” ujarnya dengan nada tegas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi