Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Koperasi Merah Putih di NTT: Solusi Nyata atau Sekadar Program dari Atas?

badge-check


					Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Linus Lusi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan diskusi yang menggabungkan gagasan ilmu pemerintahan dengan keterlibatan aktif mahasiswa. Menurutnya, forum seperti ini penting untuk membangun kesadaran dan kemandirian intelektual bagi generasi muda dalam mencermati berbagai proses kebijakan yang tengah dijalankan oleh negara.

Menyoroti peran pemerintah dalam mendorong perekonomian di NTT, Linus Lusi menyatakan bahwa dampaknya sangat signifikan. Saat ini, tercatat sebanyak 3.400 unit koperasi atau kelompok usaha telah terbentuk dan berhasil memberikan kemandirian ekonomi bagi warga desa.

“Kemandirian ekonomi ini berkaitan erat dengan kemandirian pangan yang modern. Dengan demikian, masyarakat memiliki daya tawar yang lebih baik dalam perekonomian, di mana koperasi menjadi ujung tombaknya,” ujarnya.

Untuk memperkuat koperasi di tingkat lokal, Dinas Koperasi dan UKM NTT menjalankan program konkret berupa pendampingan pengurus, serta monitoring dan evaluasi (monev) secara berkala. Linus mengakui bahwa banyak koperasi di NTT yang belum berkembang aktif karena kurang memperhatikan instrumen perencanaan keuangan, khususnya Rencana Anggaran Pendapatan (RAP).

“Instrumen RAP sangat krusial. Kami mewajibkan penyusunan dan evaluasi RAP setiap tahun, yang batas waktunya berakhir pada bulan Maret. Hasil evaluasi ini menjadi dasar bagi kami untuk memberikan pendampingan yang tepat sasaran,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi