Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Ekonomi & Ekologi

Koperasi Merah Putih di NTT: Solusi Nyata atau Sekadar Program dari Atas?

badge-check


					Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/

Ia juga menjelaskan tiga tahapan koperasi menuju kemandirian, yakni dari tahap *top-down* yang ia sebut sebagai *fallacy*, menuju tahap ofisialisasi, hingga akhirnya mencapai otonomi.

Menurutnya, koperasi akan benar-benar mandiri ketika memiliki fondasi pendanaan dan ekonomi yang kuat; mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung pada pinjaman dari struktur APBN; serta terbebas dari dominasi elit.

“Otonomi itu merupakan kerja panjang sampai kita melihat koperasi benar-benar mandiri sebagai soko guru ekonomi, seperti yang dibayangkan oleh Mohammad Hatta,” jelasnya.

Terkait peran pendidikan, ia menilai kampus memiliki peran penting dalam memperkuat koperasi merah putih. Kampus dapat menjadi ruang literasi, penyuluh, hingga mitra kolaboratif dalam pengelolaan koperasi.

“Saya pikir perlu kolaborasi dari aneka macam elemen sosial, salah satunya kampus,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ke depan, kampus dapat berperan sebagai penasihat ahli dalam manajemen koperasi guna memastikan koperasi benar-benar menjadi soko guru ekonomi kerakyatan di NTT.

Dalam konteks ideologis, ia memandang konsep koperasi merah putih tidak lepas dari kecenderungan kapitalisme negara.

“Saya membayangkan ini kapitalisme negara, atau bagaimana rezim Prabowo Subianto berusaha memimpin satu kapitalisme yang betul-betul dikelola oleh negara,” katanya.

Ia juga menyinggung adanya dana seperti “Danan Tara” yang berada langsung di bawah Presiden dan digunakan untuk mengoperasionalkan berbagai proyek strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis, militerisme, dan koperasi merah putih.

“Saya melihat ini adalah demokrasi terpimpin yang lebih menonjolkan wajah kapitalisme negara,” lanjutnya.

Terkait model koperasi ideal di NTT, ia menegaskan bahwa pendekatan yang menyeragamkan tidak efektif karena setiap wilayah memiliki keunikan sosial-budaya masing-masing.

“Harus dipelajari satu demi satu bagaimana identitas sosial dari setiap desa,” ujarnya.

Sebagai penutup, Emanuel Kosat mengutip pemikiran Mohammad Hatta tentang semangat kolektivitas dalam koperasi.

“Kalau lidi sendiri akan patah, tetapi kalau lidi itu disatukan, semangat tolong-menolong membuat semua anggota mengalami keuntungan bersama. Kita harus menjadi tuan rumah di tanah kita sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Wawali Kota Kupang Luncurkan Program PKM Berdampak 2026

30 Juli 2026 - 16:07 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Trending di Suara Mahasiswa