Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Koperasi Merah Putih di NTT: Solusi Nyata atau Sekadar Program dari Atas?

badge-check


					Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Akademisi dan Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UNWIRA, Emanuel Kosat. Foto: Dok. Yanto/

Ia juga menjelaskan tiga tahapan koperasi menuju kemandirian, yakni dari tahap *top-down* yang ia sebut sebagai *fallacy*, menuju tahap ofisialisasi, hingga akhirnya mencapai otonomi.

Menurutnya, koperasi akan benar-benar mandiri ketika memiliki fondasi pendanaan dan ekonomi yang kuat; mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung pada pinjaman dari struktur APBN; serta terbebas dari dominasi elit.

“Otonomi itu merupakan kerja panjang sampai kita melihat koperasi benar-benar mandiri sebagai soko guru ekonomi, seperti yang dibayangkan oleh Mohammad Hatta,” jelasnya.

Terkait peran pendidikan, ia menilai kampus memiliki peran penting dalam memperkuat koperasi merah putih. Kampus dapat menjadi ruang literasi, penyuluh, hingga mitra kolaboratif dalam pengelolaan koperasi.

“Saya pikir perlu kolaborasi dari aneka macam elemen sosial, salah satunya kampus,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ke depan, kampus dapat berperan sebagai penasihat ahli dalam manajemen koperasi guna memastikan koperasi benar-benar menjadi soko guru ekonomi kerakyatan di NTT.

Dalam konteks ideologis, ia memandang konsep koperasi merah putih tidak lepas dari kecenderungan kapitalisme negara.

“Saya membayangkan ini kapitalisme negara, atau bagaimana rezim Prabowo Subianto berusaha memimpin satu kapitalisme yang betul-betul dikelola oleh negara,” katanya.

Ia juga menyinggung adanya dana seperti “Danan Tara” yang berada langsung di bawah Presiden dan digunakan untuk mengoperasionalkan berbagai proyek strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis, militerisme, dan koperasi merah putih.

“Saya melihat ini adalah demokrasi terpimpin yang lebih menonjolkan wajah kapitalisme negara,” lanjutnya.

Terkait model koperasi ideal di NTT, ia menegaskan bahwa pendekatan yang menyeragamkan tidak efektif karena setiap wilayah memiliki keunikan sosial-budaya masing-masing.

“Harus dipelajari satu demi satu bagaimana identitas sosial dari setiap desa,” ujarnya.

Sebagai penutup, Emanuel Kosat mengutip pemikiran Mohammad Hatta tentang semangat kolektivitas dalam koperasi.

“Kalau lidi sendiri akan patah, tetapi kalau lidi itu disatukan, semangat tolong-menolong membuat semua anggota mengalami keuntungan bersama. Kita harus menjadi tuan rumah di tanah kita sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Desak Polisi Bongkar Tuntas Kematian Fika Serwutun: Jangan Ada Rekayasa Kasus

15 Mei 2026 - 11:07 WIB

Trending di Politik & Hukum