Ia juga menjelaskan tiga tahapan koperasi menuju kemandirian, yakni dari tahap *top-down* yang ia sebut sebagai *fallacy*, menuju tahap ofisialisasi, hingga akhirnya mencapai otonomi.
Menurutnya, koperasi akan benar-benar mandiri ketika memiliki fondasi pendanaan dan ekonomi yang kuat; mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung pada pinjaman dari struktur APBN; serta terbebas dari dominasi elit.
“Otonomi itu merupakan kerja panjang sampai kita melihat koperasi benar-benar mandiri sebagai soko guru ekonomi, seperti yang dibayangkan oleh Mohammad Hatta,” jelasnya.
Terkait peran pendidikan, ia menilai kampus memiliki peran penting dalam memperkuat koperasi merah putih. Kampus dapat menjadi ruang literasi, penyuluh, hingga mitra kolaboratif dalam pengelolaan koperasi.
“Saya pikir perlu kolaborasi dari aneka macam elemen sosial, salah satunya kampus,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ke depan, kampus dapat berperan sebagai penasihat ahli dalam manajemen koperasi guna memastikan koperasi benar-benar menjadi soko guru ekonomi kerakyatan di NTT.
Dalam konteks ideologis, ia memandang konsep koperasi merah putih tidak lepas dari kecenderungan kapitalisme negara.
“Saya membayangkan ini kapitalisme negara, atau bagaimana rezim Prabowo Subianto berusaha memimpin satu kapitalisme yang betul-betul dikelola oleh negara,” katanya.
Ia juga menyinggung adanya dana seperti “Danan Tara” yang berada langsung di bawah Presiden dan digunakan untuk mengoperasionalkan berbagai proyek strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis, militerisme, dan koperasi merah putih.
“Saya melihat ini adalah demokrasi terpimpin yang lebih menonjolkan wajah kapitalisme negara,” lanjutnya.
Terkait model koperasi ideal di NTT, ia menegaskan bahwa pendekatan yang menyeragamkan tidak efektif karena setiap wilayah memiliki keunikan sosial-budaya masing-masing.
“Harus dipelajari satu demi satu bagaimana identitas sosial dari setiap desa,” ujarnya.
Sebagai penutup, Emanuel Kosat mengutip pemikiran Mohammad Hatta tentang semangat kolektivitas dalam koperasi.
“Kalau lidi sendiri akan patah, tetapi kalau lidi itu disatukan, semangat tolong-menolong membuat semua anggota mengalami keuntungan bersama. Kita harus menjadi tuan rumah di tanah kita sendiri,” pungkasnya.











