Kelompok paling rentan dalam kasus ini adalah perempuan dan anak-anak, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Tekanan ekonomi, budaya patriarki, serta rendahnya pendidikan mendorong banyak perempuan memilih bekerja ke luar negeri meski berisiko tinggi.
“Banyak perempuan merasa menjadi penanggung beban keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan penghasilan,” jelasnya.
Ia juga mencontohkan kasus pada 2009 di Kabupaten Ende, ketika seorang siswi SMP diculik dan dibawa ke Malaysia tanpa sepengetahuan orang tuanya. Korban baru ditemukan setelah tiga bulan melalui koordinasi lintas negara.
Menurutnya, pelaku TPPO umumnya berasal dari lingkungan terdekat korban, mulai dari keluarga, calo, hingga oknum aparat desa yang memalsukan dokumen. Modus kejahatan pun terus berkembang, termasuk melalui media sosial seperti Facebook, sehingga semakin sulit dideteksi.
Di sisi lain, pekerja migran Indonesia (PMI) memberikan kontribusi besar bagi negara melalui remitansi. Namun, perlindungan terhadap mereka dinilai masih lemah, sehingga banyak mengalami eksploitasi, kekerasan, hingga penyiksaan.
Data dari BP3MI menunjukkan pola migrasi yang sebenarnya dapat diprediksi, seperti peningkatan keberangkatan pasca musim panen. Namun, persoalan TPPO dinilai belum ditangani secara serius.









