Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Yayasan Kaya Tene Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”

badge-check


					Foto Peserta Nobar. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Peserta Nobar. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Yayasan Kaya Tene Kupang menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Aula Taman Budaya Gerson Poyk Oepoi, Kupang, Sabtu (9/5/2026) malam.

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk refleksi kritis masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap dampak industri ekstraktif yang dinilai sering mengabaikan kedaulatan ekologis serta hak-hak masyarakat adat. Refleksi ini dianggap penting karena hingga saat ini masyarakat adat masih menghadapi berbagai persoalan akibat kerusakan lingkungan dan hilangnya ruang hidup yang disebabkan aktivitas industri.

Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pemuda, mahasiswa, hingga elemen masyarakat lainnya. Kegiatan berlangsung dengan baik dan penuh khidmat. Para peserta terlihat antusias mengikuti pemutaran film dan aktif dalam sesi diskusi.

Perwakilan WALHI NTT, Gress Gracelia, mengatakan kehadiran peserta dalam kegiatan tersebut menjadi tanda bahwa masyarakat mulai menunjukkan kepedulian terhadap isu lingkungan dan masa depan NTT. Menurutnya, kondisi yang terjadi di NTT memiliki kemiripan dengan persoalan yang dialami masyarakat adat di Papua.

“Tepat Januari tahun lalu, masyarakat adat di Mutis melakukan ritual untuk mempertahankan tanah leluhur mereka. Hingga hari ini, masyarakat adat di Mutis masih terus berjuang mempertahankan ruang hidup dan tanah adat mereka dari ancaman perampasan,” ujarnya.

Gress juga menyinggung beberapa kasus yang melibatkan perempuan dan anak-anak dalam perjuangan mempertahankan tanah adat. Ia menyebut ada seorang anak perempuan yang harus melahirkan di tengah situasi pengusuran masyarakat adat di Besipae. Selain itu, ada juga sosok Mama Mia di Poco Leok yang berdiri di garis depan menghadang aparat demi mempertahankan ruang hidupnya.

“Masyarakat adat tidak sendirian, mereka sering kali menghadapi kekuatan represif hanya untuk bertahan hidup di tanah mereka sendiri,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

Harga Bahan Pokok di Kupang Naik, Pemkot Pastikan Stok Tetap Aman

14 Mei 2026 - 16:11 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi