Sementara itu, Mansyur yang juga menjadi penanggap dalam diskusi menyampaikan refleksinya mengenai hubungan masyarakat Papua dengan alam. Ia mengaku awalnya merasa belum memahami persoalan Papua secara mendalam, namun berusaha belajar melalui buku dan pertemuan langsung dengan masyarakat.
“Saya bisa mendengar suara-suara mereka, meskipun saya tidak memiliki kekuasaan atau platform sebesar para pemimpin. Namun, pertemuan dengan orang-orang yang tetap fokus memperjuangkan hak-haknya mengajarkan saya banyak hal,” ujarnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya membaca buku yang membahas persoalan Papua secara menyeluruh.
“Saya menerima buku itu dan mempelajarinya dengan serius. Dari sana, saya mulai masuk ke dalam ‘dunia’ mereka. Pertemuan-pertemuan berikutnya memberikan gambaran nyata tentang bagaimana masyarakat Papua hidup dan berjuang,” jelasnya.
Menurut Mansyur, kondisi yang dialami masyarakat Papua memiliki kemiripan dengan persoalan yang sedang terjadi di NTT.
“Mari kita perhatikan baik-baik. Apa yang terjadi di Papua memiliki kemiripan dengan apa yang sedang dihadapi saudara-saudara kita di NTT. Semoga melalui diskusi ini, kita semakin sadar bahwa kerusakan alam dan perampasan hak adalah musuh bersama yang harus kita lawan,” pungkasnya.











