Tokoh masyarakat, Imanuel Tampani, dalam kesempatan tersebut juga memberikan tantangan kepada pemuda dan mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton dalam perjuangan masyarakat adat.
“Kawan-kawan, kita sudah menonton film ini dan mendengar presentasi mengenai kasus-kasus di NTT. Malam ini, saya ingin menyatakan satu hal tegas: Pemuda dan mahasiswa adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat adat,” ujarnya.
Imanuel menilai masih banyak anak muda yang hanya aktif berbicara di ruang diskusi, sementara perjuangan di lapangan lebih banyak dilakukan oleh orang tua dan masyarakat adat.
“Hari ini, masyarakat di seluruh NTT sudah berjuang. Yang berjuang di lapangan adalah ibu-ibu dan orang tua kita. Namun, pemuda dan mahasiswa seringkali hanya berbicara di tempat-tempat aman. Saya menantang kawan-kawan semua: Kapan kalian akan turun tangan?” tegasnya.
Ia juga mengingatkan ancaman yang bisa terjadi jika tanah adat terus dikuasai pihak luar.
“Jangan sampai besok, ketika kalian pulang kampung, kalian mendapati tanah kalian telah dipenuhi perkebunan besar. Kalian akan menjadi orang pendatang di tanah kalian sendiri. Ini adalah ancaman nyata,” jelasnya.
Menutup penyampaiannya, Imanuel mengajak generasi muda untuk ikut menjaga tanah leluhur dan membantu masyarakat adat di kampung halaman masing-masing.
“Ini adalah tantangan saya kepada kawan-kawan: Sadarilah bahwa kalian adalah bagian dari masyarakat adat. Turunlah ke bawah, bantu orang tua kalian di kampung halaman masing-masing untuk mempertahankan tanah leluhur. Jangan biarkan warisan itu hilang begitu saja,” pungkasnya.***
Kontributor: Yanto











