Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Yayasan Kaya Tene Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”

badge-check


					Foto Peserta Nobar. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Peserta Nobar. Foto: Dok. Yanto/

Tokoh masyarakat, Imanuel Tampani, dalam kesempatan tersebut juga memberikan tantangan kepada pemuda dan mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton dalam perjuangan masyarakat adat.

“Kawan-kawan, kita sudah menonton film ini dan mendengar presentasi mengenai kasus-kasus di NTT. Malam ini, saya ingin menyatakan satu hal tegas: Pemuda dan mahasiswa adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat adat,” ujarnya.

Imanuel menilai masih banyak anak muda yang hanya aktif berbicara di ruang diskusi, sementara perjuangan di lapangan lebih banyak dilakukan oleh orang tua dan masyarakat adat.

“Hari ini, masyarakat di seluruh NTT sudah berjuang. Yang berjuang di lapangan adalah ibu-ibu dan orang tua kita. Namun, pemuda dan mahasiswa seringkali hanya berbicara di tempat-tempat aman. Saya menantang kawan-kawan semua: Kapan kalian akan turun tangan?” tegasnya.

Ia juga mengingatkan ancaman yang bisa terjadi jika tanah adat terus dikuasai pihak luar.

“Jangan sampai besok, ketika kalian pulang kampung, kalian mendapati tanah kalian telah dipenuhi perkebunan besar. Kalian akan menjadi orang pendatang di tanah kalian sendiri. Ini adalah ancaman nyata,” jelasnya.

Menutup penyampaiannya, Imanuel mengajak generasi muda untuk ikut menjaga tanah leluhur dan membantu masyarakat adat di kampung halaman masing-masing.

“Ini adalah tantangan saya kepada kawan-kawan: Sadarilah bahwa kalian adalah bagian dari masyarakat adat. Turunlah ke bawah, bantu orang tua kalian di kampung halaman masing-masing untuk mempertahankan tanah leluhur. Jangan biarkan warisan itu hilang begitu saja,” pungkasnya.***

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

Harga Bahan Pokok di Kupang Naik, Pemkot Pastikan Stok Tetap Aman

14 Mei 2026 - 16:11 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi