Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Pendidikan & Teknologi

GMNI Kupang Gelar Diskusi “Membaca Soekarno dari Kiri”, Bahas Pancasila, Marhaenisme dan Tantangan Demokrasi

badge-check


					Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/

KupangTimurInsight, Kupang – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang bekerja sama dengan Komunitas KULI Batulis menggelar diskusi publik bertajuk “Membaca Soekarno dari Kiri” di Gardu GMNI Kupang, Naimata, Kota Kupang, Selasa (2/6/2026).

Kegiatan ini dihadiri akademisi, kader GMNI, serta sejumlah organisasi mahasiswa seperti LMND, BEMNUS, GMKI, dan FMN Kupang. Diskusi menghadirkan Peter Tan, SVD., dan Dr. Rudi Rohi sebagai pemateri utama, sementara Eusabius S. Niron, S.IP., M.IP., bertindak sebagai penanggap. Acara dipandu oleh moderator Louiza Maria Fransiska Wua.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta pemutaran pidato-pidato Bung Karno. Suasana diskusi berlangsung aktif dengan antusiasme peserta yang tinggi sepanjang kegiatan.

Dalam pemaparannya, Peter Tan menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari pergulatan berbagai gagasan besar dunia, seperti nasionalisme, sosialisme, Marxisme, dan nilai-nilai religius. Menurutnya, Soekarno tidak sekadar menggabungkan berbagai pemikiran tersebut, tetapi melahirkan gagasan yang khas Indonesia melalui konsep Marhaenisme.

Ia menegaskan bahwa Pancasila lebih tepat dipahami sebagai dasar filsafat dan pandangan hidup bangsa daripada sekadar ideologi yang bersifat tertutup. Karena itu, Pancasila harus terus dibaca dan ditafsirkan sesuai perkembangan zaman.

“Pancasila tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang sudah selesai. Justru di dalamnya terdapat ruang untuk berpikir, berdialog, dan mengkritisi realitas sosial yang terus berubah,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

IMM Kupang Gelar Nobar Film Tanah Air Beta, Bahas Nasionalisme dan Persatuan Bangsa

31 Mei 2026 - 11:06 WIB

Kuliah Umum di Stikom Uyelindo, Menko Pangan Tekankan Peran Mahasiswa IT dalam Ketahanan Pangan Nasional

15 Mei 2026 - 06:53 WIB

Tak Hanya Aksi, FMN Kupang–BEM Unwira Gelar Diskusi Publik di May Day 2026

1 Mei 2026 - 15:48 WIB

Dosen Dinonaktifkan dari Tri Darma Kampus, Pers Dibungkam Saat Audiensi

27 April 2026 - 08:07 WIB

Trending di Pendidikan & Teknologi