Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Pendidikan & Teknologi

GMNI Kupang Gelar Diskusi “Membaca Soekarno dari Kiri”, Bahas Pancasila, Marhaenisme dan Tantangan Demokrasi

badge-check


					Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/

Peter Tan juga menjelaskan alasan penggunaan perspektif kiri dalam membaca pemikiran Soekarno. Menurutnya, cara pandang kiri pada dasarnya berangkat dari keberpihakan terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan dan ketimpangan sosial.

Ia menilai bahwa membaca Soekarno dari kiri bukan berarti menempatkan diri secara kaku dalam pertentangan ideologi kiri dan kanan, melainkan upaya memahami kembali semangat perjuangan Soekarno dalam membela kelompok masyarakat yang lemah.

Sesi Diskusi. Foto: Dok. Yanto/

Dalam konteks tersebut, Peter Tan menyinggung pemikiran Karl Marx dan Antonio Gramsci yang banyak berbicara tentang ketidakadilan ekonomi, dominasi kekuasaan, dan hegemoni ideologi. Menurutnya, forum-forum diskusi seperti ini penting untuk menjaga daya kritis masyarakat terhadap berbagai narasi yang berkembang di ruang publik.

Peter Tan menambahkan bahwa Soekarno memang dipengaruhi oleh pemikiran Marx, tetapi tidak berhenti pada Marx. Soekarno melihat realitas Indonesia yang berbeda dengan Eropa dan kemudian melahirkan konsep Marhaenisme yang berangkat dari kondisi rakyat kecil Indonesia, khususnya petani dan kelompok masyarakat yang memiliki alat produksi tetapi tetap hidup dalam kemiskinan.

“Karena itu Soekarno tidak hanya mengikuti Marx, tetapi juga melampauinya dengan membaca realitas Indonesia secara langsung,” jelasnya.

Selain itu, Peter Tan mengingatkan bahwa Pancasila tidak boleh dijadikan alat untuk membungkam kebebasan berpikir maupun kritik terhadap kekuasaan. Menurutnya, Pancasila harus tetap menjadi ruang terbuka bagi perdebatan, argumentasi, dan pencarian solusi atas berbagai persoalan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

IMM Kupang Gelar Nobar Film Tanah Air Beta, Bahas Nasionalisme dan Persatuan Bangsa

31 Mei 2026 - 11:06 WIB

Kuliah Umum di Stikom Uyelindo, Menko Pangan Tekankan Peran Mahasiswa IT dalam Ketahanan Pangan Nasional

15 Mei 2026 - 06:53 WIB

Tak Hanya Aksi, FMN Kupang–BEM Unwira Gelar Diskusi Publik di May Day 2026

1 Mei 2026 - 15:48 WIB

Dosen Dinonaktifkan dari Tri Darma Kampus, Pers Dibungkam Saat Audiensi

27 April 2026 - 08:07 WIB

Trending di Pendidikan & Teknologi