Peter Tan juga menjelaskan alasan penggunaan perspektif kiri dalam membaca pemikiran Soekarno. Menurutnya, cara pandang kiri pada dasarnya berangkat dari keberpihakan terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan dan ketimpangan sosial.
Ia menilai bahwa membaca Soekarno dari kiri bukan berarti menempatkan diri secara kaku dalam pertentangan ideologi kiri dan kanan, melainkan upaya memahami kembali semangat perjuangan Soekarno dalam membela kelompok masyarakat yang lemah.

Sesi Diskusi. Foto: Dok. Yanto/
Dalam konteks tersebut, Peter Tan menyinggung pemikiran Karl Marx dan Antonio Gramsci yang banyak berbicara tentang ketidakadilan ekonomi, dominasi kekuasaan, dan hegemoni ideologi. Menurutnya, forum-forum diskusi seperti ini penting untuk menjaga daya kritis masyarakat terhadap berbagai narasi yang berkembang di ruang publik.
Peter Tan menambahkan bahwa Soekarno memang dipengaruhi oleh pemikiran Marx, tetapi tidak berhenti pada Marx. Soekarno melihat realitas Indonesia yang berbeda dengan Eropa dan kemudian melahirkan konsep Marhaenisme yang berangkat dari kondisi rakyat kecil Indonesia, khususnya petani dan kelompok masyarakat yang memiliki alat produksi tetapi tetap hidup dalam kemiskinan.
“Karena itu Soekarno tidak hanya mengikuti Marx, tetapi juga melampauinya dengan membaca realitas Indonesia secara langsung,” jelasnya.
Selain itu, Peter Tan mengingatkan bahwa Pancasila tidak boleh dijadikan alat untuk membungkam kebebasan berpikir maupun kritik terhadap kekuasaan. Menurutnya, Pancasila harus tetap menjadi ruang terbuka bagi perdebatan, argumentasi, dan pencarian solusi atas berbagai persoalan bangsa.












