Sementara itu, Dr. Rudi Rohi menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya filosofi negara, tetapi juga metode berpikir, cara hidup, dan cara memandang realitas sosial. Ia menyebut Pancasila sebagai ruang dialektika yang memungkinkan berbagai gagasan berbeda bertemu dan berdialog.
Menurutnya, selama ini masih banyak pihak yang memahami Pancasila secara sempit dengan menempatkannya hanya sebagai antitesis terhadap komunisme atau pemikiran kiri. Padahal, Pancasila justru lahir sebagai titik temu berbagai ideologi yang berkembang pada masa perjuangan kemerdekaan.
“Pancasila tidak anti-komunis, tidak anti-kiri, dan tidak anti-kanan. Pancasila adalah ruang yang mempertemukan berbagai gagasan dalam satu kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Rudi Rohi juga mengajak peserta melihat berbagai kontradiksi antara nilai-nilai Pancasila dan kondisi sosial yang terjadi saat ini. Ia menyoroti persoalan kemanusiaan, demokrasi, kesenjangan sosial, hingga kemerdekaan berpikir yang menurutnya masih menjadi tantangan besar dalam kehidupan berbangsa.
Menurutnya, cara berpikir kiri bukan sekadar mengkritik, tetapi juga menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Berpikir kiri bukan menciptakan masalah baru. Berpikir kiri adalah keberanian mengkritisi realitas sekaligus menawarkan jalan keluar,” tegasnya.












