Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Pendidikan & Teknologi

GMNI Kupang Gelar Diskusi “Membaca Soekarno dari Kiri”, Bahas Pancasila, Marhaenisme dan Tantangan Demokrasi

badge-check


					Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Foto Bersama Usai Kegiatan. Foto: Dok. Yanto/

Sebagai penanggap, Eusabius S. Niron menyoroti menguatnya logika meritokrasi dalam masyarakat yang membuat keberhasilan ekonomi sering dipandang sebagai hasil kemampuan individu semata. Kondisi tersebut, menurutnya, menyebabkan solidaritas sosial semakin melemah dan kelompok miskin kerap disalahkan atas kondisi yang mereka alami.

Ia juga menilai bahwa oligarki tidak hilang setelah Reformasi 1998, melainkan beradaptasi dan terus bekerja melalui mekanisme demokrasi, termasuk melalui pemilu dan berbagai instrumen politik lainnya.

Karena itu, Eusabius menekankan pentingnya menghidupkan kembali Marhaenisme bukan sekadar sebagai identitas politik, tetapi sebagai metode berpikir untuk membaca persoalan oligarki, neoliberalisme, dan krisis demokrasi yang berkembang saat ini.

Peter Tan, SVD. Menanggapi pertanyaan. Foto: Dok. Yanto/

Pada sesi diskusi, peserta bernama Emanuel Kosat mempertanyakan mengapa Pancasila masih perlu didiskusikan jika dianggap sebagai sesuatu yang final. Menurutnya, Pancasila tidak boleh dipahami sebagai konsep yang kaku, melainkan sebagai metode berpikir yang terus berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Menanggapi hal tersebut, Peter Tan menjelaskan bahwa Pancasila memang merupakan hasil sintesis berbagai pemikiran besar yang lahir melalui proses perdebatan panjang para pendiri bangsa. Karena itu, meskipun rumusannya telah final sebagai dasar negara, ruang penafsiran dan pemaknaannya tetap terbuka.

“Pancasila akan tetap hidup jika selalu ada ruang dialog, kritik, dan perdebatan di dalamnya. Justru ruang itulah yang membuat Pancasila tetap relevan menghadapi perubahan zaman,” pungkasnya.**

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik

11 Juni 2026 - 14:40 WIB

IMM Kupang Gelar Nobar Film Tanah Air Beta, Bahas Nasionalisme dan Persatuan Bangsa

31 Mei 2026 - 11:06 WIB

Kuliah Umum di Stikom Uyelindo, Menko Pangan Tekankan Peran Mahasiswa IT dalam Ketahanan Pangan Nasional

15 Mei 2026 - 06:53 WIB

Tak Hanya Aksi, FMN Kupang–BEM Unwira Gelar Diskusi Publik di May Day 2026

1 Mei 2026 - 15:48 WIB

Dosen Dinonaktifkan dari Tri Darma Kampus, Pers Dibungkam Saat Audiensi

27 April 2026 - 08:07 WIB

Trending di Pendidikan & Teknologi