Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Diskusi “Menolak Punah” Bongkar Dampak Nyata Krisis Sampah di NTT

badge-check


					Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/ Perbesar

Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/

KupangTimurInsight, Kupang – Diskusi dan nonton bareng (nobar) film bertajuk “Menolak Punah” yang digelar di Yayasan PIKUL Kupang pada Selasa (5/4/2026) menjadi ruang refleksi atas persoalan lingkungan. Kegiatan ini menyoroti krisis pengelolaan sampah di Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus gaya hidup konsumtif masyarakat.

Pemateri pertama, Horiana Yolanda, menegaskan bahwa persoalan sampah di NTT tidak lagi bisa dilihat sebagai isu kebersihan semata, melainkan sudah masuk dalam krisis tata kelola lingkungan.

“Kita tidak bisa melihat isu ini sebelah mata. Jika dilihat dari model tata kelola sampah di 22 kabupaten/kota di NTT, semuanya masih menggunakan sistem open dumping dengan mekanisme ‘kumpul-angkut-buang’ tanpa pemrosesan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Ini jelas tidak sejalan dengan UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seharusnya lima tahun setelah undang-undang tersebut disahkan, pemerintah daerah sudah beralih ke sistem sanitary landfill atau pengolahan sesuai standar. Namun hingga kini, menurutnya, masalah pengelolaan sampah masih terjadi dari hulu hingga hilir.

Selain itu, Horiana juga menyoroti dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan. Ia menyebut pencemaran terjadi sejak proses produksi hingga pembuangan, terutama pada sampah plastik yang sulit terurai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Desak Polisi Bongkar Tuntas Kematian Fika Serwutun: Jangan Ada Rekayasa Kasus

15 Mei 2026 - 11:07 WIB

Trending di Politik & Hukum