Sementara itu, salah satu peserta, Scivo William, mengaku terkesan dengan film yang ditonton. Ia menilai film tersebut disusun dengan baik dan mudah dipahami.
Ia juga mengapresiasi karya sineas Dandy Laksono yang dinilai konsisten mengangkat realitas di lapangan. Menurutnya, film ini relevan bagi masyarakat, terutama yang sering berbelanja online.
“Jadi, ‘Menolak Punah’ adalah satu tema besar yang bisa dilihat dalam industri pakaian, di mana nasib manusia itu sendiri dipertaruhkan,” tambahnya.
Ia juga mulai mempertanyakan kebiasaan belanja masyarakat yang dinilai semakin konsumtif.
“Misalnya, satu orang dalam satu bulan bisa melakukan checkout hingga 4-5 baju hanya karena promo angka kembar bulanan di marketplace. Bayangkan jika satu kelurahan atau satu kota melakukannya; jumlah produksinya akan sangat besar,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan sistem yang belum berpihak pada lingkungan. Ia pun mengaku pesimis terhadap perubahan kebijakan pemerintah.
“Namun, langkah pertama harus dimulai dari diri sendiri, yaitu menghentikan secara bertahap kebiasaan checkout barang hanya karena alasan lucu atau diskon, bukan karena kebutuhan,” pungkasnya.











