Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Diskusi “Menolak Punah” Bongkar Dampak Nyata Krisis Sampah di NTT

badge-check


					Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/ Perbesar

Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/

“Dampaknya sangat nyata. Seperti kasus kebakaran TPA Alak tahun 2023, data Puskesmas menunjukkan 891 warga mengalami ISPA akibat asap beracun, yang sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain pencemaran udara, mikroplastik dan zat kimia berbahaya seperti bifenil poliklorinasi mencemari air dan tanah, masuk ke rantai makanan, dan berpotensi menyebabkan kanker serta gangguan kesehatan lainnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, dampak sosial ekonomi juga cukup besar, mulai dari masyarakat yang kehilangan pendapatan karena sakit, nelayan yang kesulitan melaut, hingga meningkatnya tekanan ekonomi dalam keluarga.

“Tidak ada persoalan yang berdiri tunggal; semuanya saling terhubung dalam lingkaran setan akibat sistem yang amburadul,” tegasnya.

Terkait solusi, Horiana mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Ia juga mengkritik lemahnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Regulasi itu mewajibkan pelaku usaha membatasi timbulan sampah, namun implementasinya lemah. Kita sering lupa menekan industri di tingkat hulu untuk bertanggung jawab atas residu produk mereka. Sistem ‘kumpul-angkut-buang’ harus segera ditinggalkan,” ujarnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam berbelanja.

“Selain itu, dukunglah produk UMKM lokal dengan fashion yang lebih adil dan lestari. Dengan begitu, kita turut menolak kepunahan ekosistem dan masa depan manusia itu sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Desak Polisi Bongkar Tuntas Kematian Fika Serwutun: Jangan Ada Rekayasa Kasus

15 Mei 2026 - 11:07 WIB

Trending di Politik & Hukum