Menu ✖

Mode Gelap
SPBU Oesapa dan Liliba Sebut Stok Pertalite Aman di Tengah Antrean Kendaraan Diskusi ASTRIA INITIA di Kupang Bahas Polemik Ijazah Gibran, Batas Kewenangan MK, hingga Arah Demokrasi Indonesia FSPMI NTT Soroti RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Desak Upah Layak hingga Kepastian Kerja Konflik Agraria di NTT Tak Kunjung Tuntas, Warga Naibonat hingga Temef Desak DPRD Turun Tangan Mahasiswa Unwira Bedah Sisi Gelap Program MBG, Soroti Keracunan hingga Politik Anggaran Alumni Undana Jadi Korban Penembakan di Jayawijaya, BEM Desak Pengusutan Tuntas

Ekonomi & Ekologi

Diskusi “Menolak Punah” Bongkar Dampak Nyata Krisis Sampah di NTT

badge-check


					Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/ Perbesar

Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/

“Dampaknya sangat nyata. Seperti kasus kebakaran TPA Alak tahun 2023, data Puskesmas menunjukkan 891 warga mengalami ISPA akibat asap beracun, yang sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain pencemaran udara, mikroplastik dan zat kimia berbahaya seperti bifenil poliklorinasi mencemari air dan tanah, masuk ke rantai makanan, dan berpotensi menyebabkan kanker serta gangguan kesehatan lainnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, dampak sosial ekonomi juga cukup besar, mulai dari masyarakat yang kehilangan pendapatan karena sakit, nelayan yang kesulitan melaut, hingga meningkatnya tekanan ekonomi dalam keluarga.

“Tidak ada persoalan yang berdiri tunggal; semuanya saling terhubung dalam lingkaran setan akibat sistem yang amburadul,” tegasnya.

Terkait solusi, Horiana mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Ia juga mengkritik lemahnya implementasi kebijakan yang sudah ada.

“Regulasi itu mewajibkan pelaku usaha membatasi timbulan sampah, namun implementasinya lemah. Kita sering lupa menekan industri di tingkat hulu untuk bertanggung jawab atas residu produk mereka. Sistem ‘kumpul-angkut-buang’ harus segera ditinggalkan,” ujarnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam berbelanja.

“Selain itu, dukunglah produk UMKM lokal dengan fashion yang lebih adil dan lestari. Dengan begitu, kita turut menolak kepunahan ekosistem dan masa depan manusia itu sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aliansi NTT Menggugat Soroti Sejumlah Persoalan di Kupang

27 Agustus 2026 - 14:40 WIB

Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan

21 Agustus 2026 - 00:01 WIB

Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita

15 Agustus 2026 - 05:24 WIB

Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir

15 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

14 Agustus 2026 - 16:41 WIB

Trending di Hukum