“Dampaknya sangat nyata. Seperti kasus kebakaran TPA Alak tahun 2023, data Puskesmas menunjukkan 891 warga mengalami ISPA akibat asap beracun, yang sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain pencemaran udara, mikroplastik dan zat kimia berbahaya seperti bifenil poliklorinasi mencemari air dan tanah, masuk ke rantai makanan, dan berpotensi menyebabkan kanker serta gangguan kesehatan lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak sosial ekonomi juga cukup besar, mulai dari masyarakat yang kehilangan pendapatan karena sakit, nelayan yang kesulitan melaut, hingga meningkatnya tekanan ekonomi dalam keluarga.
“Tidak ada persoalan yang berdiri tunggal; semuanya saling terhubung dalam lingkaran setan akibat sistem yang amburadul,” tegasnya.
Terkait solusi, Horiana mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Ia juga mengkritik lemahnya implementasi kebijakan yang sudah ada.
“Regulasi itu mewajibkan pelaku usaha membatasi timbulan sampah, namun implementasinya lemah. Kita sering lupa menekan industri di tingkat hulu untuk bertanggung jawab atas residu produk mereka. Sistem ‘kumpul-angkut-buang’ harus segera ditinggalkan,” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam berbelanja.
“Selain itu, dukunglah produk UMKM lokal dengan fashion yang lebih adil dan lestari. Dengan begitu, kita turut menolak kepunahan ekosistem dan masa depan manusia itu sendiri,” pungkasnya.











