Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Diskusi “Menolak Punah” Bongkar Dampak Nyata Krisis Sampah di NTT

badge-check


					Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/ Perbesar

Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/

Di sisi lain, perwakilan PIKUL sekaligus penyelenggara kegiatan, Elsy Grazia, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap krisis ekologis yang semakin nyata.

“Kami merasa perlu menghadirkan ruang diskusi melalui film ini karena krisis ekologi sudah ada di depan mata. Seharusnya, hal ini menjadi pembahasan bersama. Dalam film, kita melihat bagaimana mikroplastik yang awalnya dibuat untuk membantu kehidupan manusia, justru akhirnya menjadi bumerang bagi kita sendiri,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan makna di balik judul film “Menolak Punah”.

“Judul ‘Menolak Punah’ mengandung makna ganda. Pertama, kita menolak praktik-praktik tidak bijak dan kebijakan yang tidak adil. Kedua, kita menolak punahnya pengetahuan lokal yang turun-temurun dilakukan oleh leluhur kita. Ketiga, dan yang paling utama, kita menolak kepunahan manusia itu sendiri baik dari krisis kesehatan maupun kerusakan lingkungan yang merugikan generasi mendatang,” jelasnya.

Elsy menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk menyampaikan suara.

“Bersuara juga bisa dilakukan lewat ruang-ruang diskusi seperti ini. Bagi PIKUL, penting untuk mendengar suara-suara yang sering diabaikan atau mereka yang merasa suaranya tidak penting. Melalui ruang ini, kami ingin menghadirkan dan mendengarkan narasi-narasi tersebut,” pungkasnya.***

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

GMKI Kupang Desak Polisi Bongkar Tuntas Kematian Fika Serwutun: Jangan Ada Rekayasa Kasus

15 Mei 2026 - 11:07 WIB

Trending di Politik & Hukum