Di sisi lain, perwakilan PIKUL sekaligus penyelenggara kegiatan, Elsy Grazia, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap krisis ekologis yang semakin nyata.
“Kami merasa perlu menghadirkan ruang diskusi melalui film ini karena krisis ekologi sudah ada di depan mata. Seharusnya, hal ini menjadi pembahasan bersama. Dalam film, kita melihat bagaimana mikroplastik yang awalnya dibuat untuk membantu kehidupan manusia, justru akhirnya menjadi bumerang bagi kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan makna di balik judul film “Menolak Punah”.
“Judul ‘Menolak Punah’ mengandung makna ganda. Pertama, kita menolak praktik-praktik tidak bijak dan kebijakan yang tidak adil. Kedua, kita menolak punahnya pengetahuan lokal yang turun-temurun dilakukan oleh leluhur kita. Ketiga, dan yang paling utama, kita menolak kepunahan manusia itu sendiri baik dari krisis kesehatan maupun kerusakan lingkungan yang merugikan generasi mendatang,” jelasnya.
Elsy menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk menyampaikan suara.
“Bersuara juga bisa dilakukan lewat ruang-ruang diskusi seperti ini. Bagi PIKUL, penting untuk mendengar suara-suara yang sering diabaikan atau mereka yang merasa suaranya tidak penting. Melalui ruang ini, kami ingin menghadirkan dan mendengarkan narasi-narasi tersebut,” pungkasnya.***
Kontributor: Yanto











