Menu

Mode Gelap
Aksi Seribu Lilin, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional untuk Flores KPA melalui GESLA Salurkan 4 Ton Beras untuk Korban Gempa di Flores Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

Ekonomi & Ekologi

Diskusi “Menolak Punah” Bongkar Dampak Nyata Krisis Sampah di NTT

badge-check


					Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/ Perbesar

Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/

Di sisi lain, perwakilan PIKUL sekaligus penyelenggara kegiatan, Elsy Grazia, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap krisis ekologis yang semakin nyata.

“Kami merasa perlu menghadirkan ruang diskusi melalui film ini karena krisis ekologi sudah ada di depan mata. Seharusnya, hal ini menjadi pembahasan bersama. Dalam film, kita melihat bagaimana mikroplastik yang awalnya dibuat untuk membantu kehidupan manusia, justru akhirnya menjadi bumerang bagi kita sendiri,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan makna di balik judul film “Menolak Punah”.

“Judul ‘Menolak Punah’ mengandung makna ganda. Pertama, kita menolak praktik-praktik tidak bijak dan kebijakan yang tidak adil. Kedua, kita menolak punahnya pengetahuan lokal yang turun-temurun dilakukan oleh leluhur kita. Ketiga, dan yang paling utama, kita menolak kepunahan manusia itu sendiri baik dari krisis kesehatan maupun kerusakan lingkungan yang merugikan generasi mendatang,” jelasnya.

Elsy menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk menyampaikan suara.

“Bersuara juga bisa dilakukan lewat ruang-ruang diskusi seperti ini. Bagi PIKUL, penting untuk mendengar suara-suara yang sering diabaikan atau mereka yang merasa suaranya tidak penting. Melalui ruang ini, kami ingin menghadirkan dan mendengarkan narasi-narasi tersebut,” pungkasnya.***

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan, Diskusi Reset Indonesia Soroti Ketimpangan dan Arah Pembangunan

21 Agustus 2026 - 00:01 WIB

Menuju NTT Maju dan Sejahtera, Pemprov NTT Paparkan Capaian Dasa Cita

15 Agustus 2026 - 05:24 WIB

Gempa M7,7 Guncang Flores, NTT, Peringatan Dini Tsunami Telah Berakhir

15 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Perempuan Menggugat UU Cipta Kerja, Solidaritas Perempuan Flobamoratas Dorong Perlindungan Ruang Hidup

14 Agustus 2026 - 16:41 WIB

Ribuan Warga Padati CFD Kupang, Sambut Kehadiran Jokowi dengan Antusias

1 Agustus 2026 - 06:29 WIB

Trending di Nasional