Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Diskusi “Menolak Punah” Bongkar Dampak Nyata Krisis Sampah di NTT

badge-check


					Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/ Perbesar

Horiana Yolanda, Pemateri pertama sekaligus perwakilan dari WALHI NTT.Foto.Dok.Pribadi/

Di sisi lain, perwakilan PIKUL sekaligus penyelenggara kegiatan, Elsy Grazia, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap krisis ekologis yang semakin nyata.

“Kami merasa perlu menghadirkan ruang diskusi melalui film ini karena krisis ekologi sudah ada di depan mata. Seharusnya, hal ini menjadi pembahasan bersama. Dalam film, kita melihat bagaimana mikroplastik yang awalnya dibuat untuk membantu kehidupan manusia, justru akhirnya menjadi bumerang bagi kita sendiri,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan makna di balik judul film “Menolak Punah”.

“Judul ‘Menolak Punah’ mengandung makna ganda. Pertama, kita menolak praktik-praktik tidak bijak dan kebijakan yang tidak adil. Kedua, kita menolak punahnya pengetahuan lokal yang turun-temurun dilakukan oleh leluhur kita. Ketiga, dan yang paling utama, kita menolak kepunahan manusia itu sendiri baik dari krisis kesehatan maupun kerusakan lingkungan yang merugikan generasi mendatang,” jelasnya.

Elsy menambahkan, kegiatan ini juga menjadi ruang alternatif bagi masyarakat untuk menyampaikan suara.

“Bersuara juga bisa dilakukan lewat ruang-ruang diskusi seperti ini. Bagi PIKUL, penting untuk mendengar suara-suara yang sering diabaikan atau mereka yang merasa suaranya tidak penting. Melalui ruang ini, kami ingin menghadirkan dan mendengarkan narasi-narasi tersebut,” pungkasnya.***

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat

21 Juni 2026 - 15:21 WIB

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

FKPTT Adukan Akun Media Sosial ke Polda NTT Terkait Tuduhan Monopoli Program MBG

8 Juni 2026 - 15:39 WIB

Alarm Krisis Iklim dan Ruang Hidup Perempuan di NTT Mengemuka dalam Webinar Hari Lingkungan Hidup 2026

7 Juni 2026 - 18:01 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

Trending di Suara Mahasiswa