Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

Ekonomi & Ekologi

Harga Bahan Pokok di Kupang Naik, Pemkot Pastikan Stok Tetap Aman

badge-check


					Bahan Pokok di Pasar Kota Kupang. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Bahan Pokok di Pasar Kota Kupang. Foto: Dok. Yanto/

Kenaikan paling tinggi terjadi pada bawang merah. Surajudin menjelaskan harga bawang merah dari distributor kini mencapai Rp31.000 per kilogram dalam kondisi masih bercampur daun dan kotoran. Setelah dibersihkan dan ditambah biaya plastik, harga jual menjadi di atas Rp40.000 per kilogram.

Sementara bawang merah lokal dibeli Rp38.000 per kilogram dan dijual kembali di atas Rp40.000.

“Naiknya harga bawang merah dalam dua hari ini sangat tinggi. Kami hanya menerima barang dari distributor tanpa tahu pasti penyebab kenaikan harganya. Biasanya distributor hanya memberi tahu harga baru via telepon, dan kami langsung angkut barangnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk bawang putih, menurutnya harga masih relatif stabil bahkan sedikit turun. Namun ia mengaku berat bersih barang dari distributor berkurang dari 20 kilogram menjadi sekitar 17 sampai 18 kilogram per ikat.

Surajudin mengatakan kenaikan harga bahan pokok berdampak langsung pada pendapatan pedagang karena daya beli masyarakat menurun. Banyak pembeli memilih mencari harga lebih murah bahkan membeli langsung ke distributor.

“Stok barang sebenarnya cukup, namun kami tidak memiliki kendali penuh atas ketersediaan karena bergantung pada distributor. Yang jelas, barang tetap ada, tetapi harganya yang melambung,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi penjualan beras Bulog atau beras SPHP. Menurutnya, kualitas beras sebenarnya baik dan mendapat subsidi pemerintah, namun kurang diminati masyarakat Kupang karena dianggap terlalu keras dibanding beras Sulawesi yang lebih disukai warga.

“Kami berharap kualitas barang bagus namun harganya tidak melambung tinggi. Itu harapan kami sebagai pedagang kecil agar pasar tetap berjalan normal,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

Yayasan Kaya Tene Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”

9 Mei 2026 - 16:48 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi