Kenaikan paling tinggi terjadi pada bawang merah. Surajudin menjelaskan harga bawang merah dari distributor kini mencapai Rp31.000 per kilogram dalam kondisi masih bercampur daun dan kotoran. Setelah dibersihkan dan ditambah biaya plastik, harga jual menjadi di atas Rp40.000 per kilogram.
Sementara bawang merah lokal dibeli Rp38.000 per kilogram dan dijual kembali di atas Rp40.000.
“Naiknya harga bawang merah dalam dua hari ini sangat tinggi. Kami hanya menerima barang dari distributor tanpa tahu pasti penyebab kenaikan harganya. Biasanya distributor hanya memberi tahu harga baru via telepon, dan kami langsung angkut barangnya,” jelasnya.
Sedangkan untuk bawang putih, menurutnya harga masih relatif stabil bahkan sedikit turun. Namun ia mengaku berat bersih barang dari distributor berkurang dari 20 kilogram menjadi sekitar 17 sampai 18 kilogram per ikat.
Surajudin mengatakan kenaikan harga bahan pokok berdampak langsung pada pendapatan pedagang karena daya beli masyarakat menurun. Banyak pembeli memilih mencari harga lebih murah bahkan membeli langsung ke distributor.
“Stok barang sebenarnya cukup, namun kami tidak memiliki kendali penuh atas ketersediaan karena bergantung pada distributor. Yang jelas, barang tetap ada, tetapi harganya yang melambung,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kondisi penjualan beras Bulog atau beras SPHP. Menurutnya, kualitas beras sebenarnya baik dan mendapat subsidi pemerintah, namun kurang diminati masyarakat Kupang karena dianggap terlalu keras dibanding beras Sulawesi yang lebih disukai warga.
“Kami berharap kualitas barang bagus namun harganya tidak melambung tinggi. Itu harapan kami sebagai pedagang kecil agar pasar tetap berjalan normal,” pungkasnya.











