Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Harga Bahan Pokok di Kupang Naik, Pemkot Pastikan Stok Tetap Aman

badge-check


					Bahan Pokok di Pasar Kota Kupang. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Bahan Pokok di Pasar Kota Kupang. Foto: Dok. Yanto/

Kenaikan paling tinggi terjadi pada bawang merah. Surajudin menjelaskan harga bawang merah dari distributor kini mencapai Rp31.000 per kilogram dalam kondisi masih bercampur daun dan kotoran. Setelah dibersihkan dan ditambah biaya plastik, harga jual menjadi di atas Rp40.000 per kilogram.

Sementara bawang merah lokal dibeli Rp38.000 per kilogram dan dijual kembali di atas Rp40.000.

“Naiknya harga bawang merah dalam dua hari ini sangat tinggi. Kami hanya menerima barang dari distributor tanpa tahu pasti penyebab kenaikan harganya. Biasanya distributor hanya memberi tahu harga baru via telepon, dan kami langsung angkut barangnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk bawang putih, menurutnya harga masih relatif stabil bahkan sedikit turun. Namun ia mengaku berat bersih barang dari distributor berkurang dari 20 kilogram menjadi sekitar 17 sampai 18 kilogram per ikat.

Surajudin mengatakan kenaikan harga bahan pokok berdampak langsung pada pendapatan pedagang karena daya beli masyarakat menurun. Banyak pembeli memilih mencari harga lebih murah bahkan membeli langsung ke distributor.

“Stok barang sebenarnya cukup, namun kami tidak memiliki kendali penuh atas ketersediaan karena bergantung pada distributor. Yang jelas, barang tetap ada, tetapi harganya yang melambung,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi penjualan beras Bulog atau beras SPHP. Menurutnya, kualitas beras sebenarnya baik dan mendapat subsidi pemerintah, namun kurang diminati masyarakat Kupang karena dianggap terlalu keras dibanding beras Sulawesi yang lebih disukai warga.

“Kami berharap kualitas barang bagus namun harganya tidak melambung tinggi. Itu harapan kami sebagai pedagang kecil agar pasar tetap berjalan normal,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi