Terkait fluktuasi harga di tingkat distributor, Gunawanshah menegaskan kondisi tersebut lebih dipengaruhi stok yang menipis dan keterlambatan pasokan baru, bukan karena permainan stok.
“Itu tergantung ketersediaan stok. Jika stok menipis dan barang baru belum datang, otomatis penawaran naik. Namun, ini tidak berarti ada unsur sengaja meniadakan stok. Kami juga terus melakukan pengamanan bersama instansi terkait seperti Ketahanan Pangan, Satgas Pangan, dan Perindag,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kualitas beras mempengaruhi harga jual. Menurutnya, beras yang lebih mahal biasanya memiliki kualitas butir lebih utuh, sedangkan beras curah murah sering dicampur dengan beras patah.
“Sekarang kondisi stok di Kota Kupang sangat aman. Saat kami keliling mengecek kios-kios, semuanya pasti ada beras SPHP atau beras Bulog,” tegasnya.
Menanggapi minimnya minat masyarakat terhadap beras Bulog atau SPHP, ia menilai hal itu lebih karena faktor kebiasaan dan anggapan bahwa beras murah memiliki kualitas rendah.
“Bukan berarti kualitasnya rendah. Pemerintah menyediakan beras dengan mutu mendekati premium namun dengan harga terjangkau. Mungkin ada anggapan masyarakat soal gengsi membeli beras murah, padahal itu adalah upaya pemerintah agar komoditi bisa dijangkau semua kalangan,” jelasnya.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah akan terus membangun komunikasi dengan pelaku usaha dan distributor agar distribusi bahan pokok tetap berjalan baik.
“Kami selalu berkomunikasi, berkoordinasi, dan rapat bersama dengan pelaku usaha untuk mencari solusi atas setiap kendala. Tujuannya agar urusan masyarakat bisa berjalan dengan baik dan stok tetap terjaga,” pungkasnya.***
Kontributor: Yanto











