Menu

Mode Gelap
Aliansi PERISAI NTT Aksi Tuntut Penegakan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang Resmi Berdiri, UKM Pers UM.KOE Siap Kawal Isu Rakyat Lewat Karya Jurnalistik Ketua FOKMAP-NTT: Terpilihnya Yali Faryon Membuka Ruang Persatuan Mahasiswa Papua dan Organisasi Gerakan LMID di Bawah Kepemimpinan Yali Faryon Berkomitmen Kawal Suara Rakyat dan Papua Serangan Jantung Kini Mengintai Generasi Muda NTT

Ekonomi & Ekologi

Harga Bahan Pokok di Kupang Naik, Pemkot Pastikan Stok Tetap Aman

badge-check


					Bahan Pokok di Pasar Kota Kupang. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Bahan Pokok di Pasar Kota Kupang. Foto: Dok. Yanto/

Terkait beras, Gunawashah mengatakan pelaku usaha yang memiliki NIB bisa langsung memperoleh beras SPHP dari Bulog. Harga beras SPHP kemasan 5 kilogram di tingkat konsumen berada di angka Rp63.000.

Sementara untuk beras premium, HET berada di kisaran Rp78.000. Sedangkan beras super premium yang tidak masuk kategori HET bisa mencapai Rp90.000 hingga Rp95.000 per kemasan, bahkan di toko modern bisa mencapai Rp110.000.

Untuk bawang merah, ia mengatakan harga saat ini di kisaran Rp45.000 per kilogram dan masih dianggap normal.

“Jika sudah stabil, harga bawang lokal biasanya berada di Rp30.000–Rp35.000 per kg. Sedangkan untuk bawang luar daerah, misalnya dari Bima NTB, harga normalnya berkisar Rp40.000–Rp45.000,” katanya.

Gunawanshah mengungkapkan sekitar 80 persen kebutuhan bahan pokok di Kota Kupang masih didatangkan dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi sehingga harga sangat dipengaruhi biaya transportasi.

“Karena kita lebih banyak mendatangkan kebutuhan daripada menyediakan dari hasil daerah, potensi kenaikan harga sangat dipengaruhi oleh faktor transportasi. Transportasi laut menggunakan BBM industri yang harganya lebih mahal dibanding BBM subsidi. Jika ongkos angkut dari Sulawesi atau Jawa tinggi, mau tidak mau harga di pasar akan naik untuk menutupi biaya tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan pemerintah akan menggunakan dana Bantuan Tidak Terduga (BTT) untuk operasi pasar jika terjadi lonjakan harga yang memicu inflasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KSPSI NTT Ajak Buruh dan Masyarakat Tetap Tenang Hadapi Dinamika Ekonomi Global Saat Nobar Piala Dunia di Kupang

16 Juni 2026 - 05:38 WIB

PERMMABAR Kupang Bedah Pancasila dan Keadilan Sosial di Tengah Arus Pariwisata Super Premium Labuan Bajo

6 Juni 2026 - 16:57 WIB

FMN Kupang Bedah Film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Bahas Dampak PSN di Papua dan NTT

29 Mei 2026 - 15:51 WIB

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

Trending di Ekonomi & Ekologi