Menu

Mode Gelap
Mahasiswa Papua di NTT Dorong Persatuan dan Kesadaran Bangun Daerah Perkuat Solidaritas di Tanah Rantau, FOKMAP-NTT Rayakan Dies Natalis ke-IX di Kupang Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

News

Buruh NTT Geram Upah Murah, KSBSI Jika Dialog Buntu, Jalanan Jadi Opsi Terakhir

badge-check


					Ketua KSBSI NTT, Daud Mboeik. Foto: Dok. Yanto/ Perbesar

Ketua KSBSI NTT, Daud Mboeik. Foto: Dok. Yanto/

Terkait BPJS, ia menilai terdapat kejanggalan ketika pekerja perusahaan justru menerima manfaat dari pemerintah.

“Apakah itu termasuk korupsi atau tidak? Karena ini tanggung jawab perusahaan, tetapi dibebankan kepada negara. Untuk klaim saja sulit,” tegasnya.

Ia menyebut klaim yang paling sulit meliputi kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan kehilangan pekerjaan.

Selain itu, KSBSI juga menyoroti praktik pengusaha yang mengaku sebagai usaha mikro untuk menghindari kewajiban, lemahnya pengawasan data usaha oleh pemerintah, serta persoalan di pelabuhan dan bandara, termasuk stigma premanisme dan ketimpangan antara pekerja outsourcing dan pekerja organik.

“Kalau di pelabuhan terus dibiarkan, dampaknya sampai keluar NTT, masyarakat menjadi takut. Itu objek vital, harus aman,” ujarnya.

Dalam konteks kepemimpinan, ia menegaskan bahwa kepala daerah adalah “bapak” bagi masyarakat dan harus terbuka terhadap aspirasi.

“Kalau kita tidak menemui gubernur, maka kita keliru. Kita harus bertemu, karena dia adalah bapak. Bapak yang baik harus mendengar anak-anaknya,” ujarnya.

Ia juga mengkritik penempatan pejabat di Dinas Tenaga Kerja yang dinilai tidak sesuai kompetensi.

“Yang mengurus tenaga kerja justru berlatar belakang perikanan, itu tidak sesuai. Tentu menjadi tidak efektif,” katanya.

Ia menegaskan bahwa aksi buruh bukanlah tindakan kontra produktif, melainkan bentuk teguran yang konstruktif.

“Jangan melihat aksi sebagai sesuatu yang kontra produktif, justru itu produktif. Teguran yang nyata itu lebih baik,” tegasnya.

KSBSI berharap para pemimpin tidak melupakan asal-usulnya dan menggunakan kekuasaan untuk melayani rakyat.

“Pemimpin jangan lupa dari mana dia berasal. Jangan hanya menerima, suatu saat NTT harus memberikan kontribusi untuk Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa perjuangan yang dilakukan bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.

“Jangan melihat kami sebagai provokator. Yang kami perjuangkan ini untuk semua. Ini soal kemanusiaan,” katanya.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa aksi buruh di Kupang selama ini berjalan aman dan tertib serta bukan merupakan pilihan utama.

“Kami tidak mungkin merusak milik sendiri. Itu adalah pilihan terakhir. Pemimpin yang baik harus menerima, menindaklanjuti, dan melakukan evaluasi. Jika tidak mampu, sebaiknya tidak menjadi pemimpin,” pungkasnya.

Kontributor: Yanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perumda Pasar Gandeng UNDANA Cari Solusi Pasar Alak, Bimoku, dan Kuanino yang Sepi Pengunjung

23 Mei 2026 - 05:47 WIB

Rally Bistolen: Film “Pesta Babi” Ungkap Dampak Pembangunan terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 02:18 WIB

KPBH Kolhua Gelar Nobar Film “Pesta Babi”Refleksi Kritis Dampak PSN terhadap Masyarakat Adat

23 Mei 2026 - 01:30 WIB

IMMALA Kupang Gelar Nobar “Pesta Babi” Sebut Kebijakan PSN di Papua Bentuk Kolonialisme Modern

16 Mei 2026 - 07:53 WIB

DPW PAN NTT Resmi Dilantik, Zulkifli Hasan Tekankan Keberpihakan pada Rakyat

15 Mei 2026 - 16:13 WIB

Trending di Politik & Hukum